Sabtu, 19 Juli 2008

Sharing

AlhamdulilLaah,... wash shalaatu was salaamu 'alaa RasuulilLaah... wa ba'du :

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Nabi saw., beliau bersabda: " Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan salat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya " (HR. Muslim no. 1712)

Pada tulisan sebelumnya saya sudah berbagi tentang bagaimana proses saya sebagai pengusaha dan sebagai guru. Kali ini saya ingin sharing tentang bagaimana saya menjadi mubalig seperti sekarang (kata orang), walaupun jauh di lubuk hati saya sangat merasa tidak pantas, tapi ini adalah karunia Allaah Subhaanahu wa Ta'aalaa yang harus saya syukuri, diantaranya dengan bercerita di blog ini ;)

AlhamdulilLaah, Bapak dan Ibu saya termasuk orangtua yang sukses dalam mendidik anak-anaknya, disamping terhitung pengusaha sukses untuk ukuran Pasar Lembang he...he. Namun seperti juga pengusaha sukses lainnya memulai dari kondisi prihatin, demikian pula orangtua saya. Saya ingat waktu kecil bagaimana mereka bekerja keras membanting tulang untuk kami, anak-anak mereka. Kami bersaudara berjumlah enam orang, empat lelaki dan dua perempuan. Saya terbesar, yang kedua dan terakhir perempuan. Meskipun berangkat dari keprihatinan, ada hal terbaik yang saya ingat dalam proses pendidikan orangtua kami, mereka selalu memberikan makanan yang terbaik buat badan, otak, dan jiwa kami!!! Ya, ibu saya sering berkata, "Kalian tahu langganan ibumu ada yang berasal dari kompleks polri dan au? Nah ... Ibu-ibu jendral itu ketika ngobrol soal makanan untuk keluarganya, ibumu ini yakin kalian kuberi makan lebih dari mereka!". Dalam hal makanan otak, Bapak dan Ibu sering mengingatkan pada anak-anaknya agar mementingkan sekolah, saya dan adik-adik bersekolah di SD yang sama (SD Negeri Lembang 1) dan semua dikenal sebagai pemegang Ranking 1 di sekolah tersebut (keenam-enamnya...he....he). SMPnya juga hampir semua sama, kecuali anak yang terakhir yang oleh Bapak langsung dimasukkan ke Pesantren.

Adapun dalam makanan jiwa, kami semua diharuskan belajar baca Al Qur`an (istilahnya : mengaji) sejak kecil. Saya ingat, waktu saya kecil yang namanya TV adalah barang mewah, kami bahkan belum punya radio. Saya sering numpang lihat TV atau dengerin radio dari tetangga, itu sebelum saya sekolah SD. Namun sejak sebelum masuk TK pun saya sudah disuruh ikut ke tajug (mushollaa) bersama anak-anak lain untuk belajar mengaji. Kalau anak-anak sekarang masuk SD sudah bisa baca latin maupun Al Qur`an karena metoda IQRA di TK, maka dulu saya bisa baca Al Qur'an sebelum masuk SD berkat metoda IRAQI di langgar kecil belakang rumah saya. Keluarga kami tinggal di rumah kontrakan waktu itu sampai saya kelas 3 SD, lalu Bapak cerita sudah beli tanah dekat Pasar Lembang tempat Bapak dan Ibu bekerja dan lagi dibangun rumah, pada saat saya kelas 4 SD barulah kami pindah ke rumah sendiri. Tentu di rumah baru ini sudah punya Radio dan TV, tapi tetap setiap sore kami disuruh berangkat ke guru ngaji untuk meneruskan pelajaran kami.

Menginjak bangku SMP saya sudah tidak ke guru ngaji lagi, tapi diberi Al Qur`an Terjemah yang selalu saya baca ba'da Maghrib, Arab maupun terjemahnya. Sampai menginjak kelas 3 SMP, Bapak saya diajak hadir ke pengajian orang tua (ceramah) oleh kenalannya yang juga seorang pengusaha toko mas sekaligus ustadz. Saya dibawa juga ke pengajian tersebut. Saya ingat penceramahnya, yang kemudian menjadi guru saya sehingga bisa membaca Arab "gundul", waktu itu menjelaskan tentang metoda mempelajari Islam. Kata beliau, ada 3 jalan manusia memahami Islam : Ijtihaad, Ittibaa', dan Taqliid. Ijtihad adalah upaya yang sungguh-sungguh dalam meneliti dan menyimpulkan langsung dari Al Qur`an maupun Hadits-hadits RasuulilLaah ShallalLaahu 'alayhi wa sallama, yaitu yang dikerjakan oleh para ahli ilmu (ulama). Ittiba' adalah mengikuti pendapat seseorang dengan mengetahui dalilnya. Sedangkan taqlid adalah mengikuti orang lain tanpa mengetahui dalilnya, dan itu terlarang berdasarkan (QS. 17 : 36),
">
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya"

SubhaanalLaah, saat itu saya sadari bahwa selama ini yang saya amalkan lebih banyak hanya berdasarkan taqlid saja! Sejak itu saya bertekad ingin lebih mengetahui Islam berdasarkan dalil-dalil secara benar, walhamdulilLaah.

Ada hal lain yang menarik dari pengajian tersebut, saya baru tahu bahwa pengajiannya dibagi 3 sesi. Sesi pertama untuk latihan ceramah atau Praktek Dakwah bagi para pemuda dan pemula, sesi kedua Ceramah Pokok, dan sesi ketiga Tanya Jawab baik lisan maupun tertulis. Pada saat datang pertama kali, saya langsung ditunjuk jadi salah seorang yang harus menyampaikan Praktek Dakwah, padahal saya tidak ada persiapan sama sekali. Untungnya pembicara Praktek Dakwah ada 3 orang, yang pertama anaknya tuan rumah, yang tampil ke depan hanya untuk menyampaikan "saya belum siap", yang kedua saya sendiri yang menyampaikan " saya belum siap tapi insya Allaah di lain waktu akan berusaha lebih mempersiapkan diri ", dan yang ketiga seorang pemuda seusia saya yang menyampaikan ceramah dengan lancar tanpa teks namun hafalan ayat dan haditsnya sangat lancar! Belakangan baru saya tahu bahwa dia adalah anak ustadz yang mengajak Bapak dan saya ke pengajian tersebut, sekolahnya emang di Pesantren tingkat Tsanawiyah kelas 3.

Akhirnya Bapak menyuruh saya belajar privat kepada Ustadz yang menyampaikan ceramah pokok tadi, ditemani anak yang sebenarnya sudah mesantren tadi, dengan alasan "untuk memperlancar pelajaran Bahasa Arab". Kami berdua belajar dari ustadz mulai dari pelajaran Nahwu dalam Kitab Jurumiyah, dilanjutkan Mutammimah Jurumiyah, dengan praktek membaca Kitab Tafsir Ibnu Katsir, dan terakhir belajar dari kitab Jaami'ud Duruus yang tidak sampai tamat dipelajari karena kesibukan dalam organisasi dakwah. Saat itu saya sudah kelas 2 SMA.

Selain belajar privat, Bapak juga mengirim saya untuk belajar Pesantren sebulan Ramadhan di Garut. Di sana saya belajar dengan anak-anak sebaya saya maupun yang sudah duduk di bangku kuliah. Sepulang dari sana, di sekolah saya diutus oleh kelas (maklum juara kelas, he...he) untuk ikut Cepat Tepat yang diselenggarakan oleh OSIS bersama dua orang teman sebagai pendamping. Penyelenggaranya Sie Pendidikan OSIS yang aktifis KARISMA (Keluarga Remaja Islam Masjid Salman-ITB). Karena banyak pertanyaan yang "berbau agama", maka kami kelas 2 bisa mengalahkan kakak-kakak kelas 3 walaupun mereka protes karena banyak pertanyaan "di luar" pelajaran sekolah!

Sesudah itu saya dan dua pendamping diutus untuk ikut Cepat Tepat masalah-masalah agama Tingkat SLTA yang diselenggarkan di UNISBA (Universitas Islam Bandung). Pendamping saya tiada lain adalah Ketua Sie Pendidikan dan Ketua Sie Rohani OSIS waktu itu. Rektor UNISBA waktu itu membuka acara dengan menjanjikan "Siapa pun yang menjadi Juara Pertama jika masuk UNISBA akan dibebaskan dari semua biaya (gratis)". Sayangnya kami hanya menjadi Juara II walaupun penonton lebih berfihak pada kami, karena yang jadi JUARA I memang berasal dari Madrasah Aliyah Negeri Cililin. Kakak ketua Sie Pendidikan berkata pada saya, "Jadi Juara II pun sudah luar biasa karena kita berasal dari sekolah umum, dan untungnya kita memang tidak berminat masuk UNISBA, he...he!". Dan memang belakangan saya tahu kakak tersebut diterima di Fakultas Kedokteran Unpad.

Pada saat pergantian kepengurusan OSIS saya direkomendasikan oleh kakak ketua Sie Rohani lama untuk menjabat Ketua Sie Rohani pada kepengurusan OSIS berikutnya. Itulah awal mula saya lebih "serius" terjun dalam bidang dakwah, disamping aktif dalam ormas Islam di luar sekolah bersama ustadz yang saya ceritakan di atas. Banyak sekali pengalaman di lapangan dakwah sejak itu, yang tidak mungkin bisa saya ceritakan semuanya. Saya hanya berharap agar Allah 'Azza wa Jalla menganugerahi saya keistiqamahan untuk terus berkiprah dalam belajar dan mengajarkan serta mengamalkan Dienul Haq, Al Islaam, yang memang satu-satunya agama yang diridhoi olehNya. Aamien.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka." Dan aku (Abdullah) sendiri berkata: "Siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, niscaya ia masuk surga ". (HR. Muslim no. 134)

WabilLaahit Taufiiq.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Amien, semoga Allah menganugerahi ke-istiqamah-an ...
(Sharing juga): Berangkat dari sharing ustadz, yang terpikir "Kalau hidup saya 'ngaco' sedari kecil (tidak seperti ustadz; juga kebanyakan orang) yang hidup baik di akhir karena baik pula hidup di awal ... bisakah saya??"
Btw, geuning ustadz teh besar di Bandung?

abuyahya mengatakan...

Insya Allaah dalam Islam sangat besar nilainya jika kita bisa Husnul Khaatimah, mendapat kesudahan hidup sebagai org yg baik, baik waktu dewasa, waktu tua, apalagi waktu meninggalkan dunia...

Saya teringat khutbah jum'at yang disampaikan Syaikh Ahmad Al-Hawwasy di Jami' Khamis Mushait Saudi Arabia waktu saya mukim di sana, beliau menjelaskan bahwa salah satu do'a yang membuat syaitan menangis dan putus asa adalah :

Allaahumma innii as-aluka husnal khaatimah...

(Yaa Allaah, sesungguhnya aku benar-benar memohon kepadaMu untuk dianugerahi kesudahan hidup yg baik)

Semoga kita semua meraihnya dengan pertolongan Allah 'Azza wa Jalla.

Aamien.

epugi mengatakan...

amin. klo sy..waktu kecil menikmati belajar seperti itu, tapi setelah remaja..dan sekarang akhirnya bekerja..malah kehilangan masa belajar seperti dulu. Dulu sy pernah belajar jurumiyah jg, safinah dan tijan. jadi pengen belajar lg. tp ga tau dimana.
oya, ustadz kenal sama kang haryo ya?

abid mengatakan...

http://uangpanas.com/?id=Abid

Hidup,Kesadaran, Dan Optimisme

PELUANG