Kamis, 25 September 2008

Bekal Mental untuk Menghadapi Ujian Hidup

(Versi Asli, lain sedikit dengan Versi yang dimuat di Harian PR)

Diantara sifat orang yang beriman adalah merasa gembira dengan datangnya Ramadhan, dan merasa sedih dengan kepergiannya. Oleh karena itu detik-detik dalam bulan penuh berkah ini digunakannya untuk benar-benar mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan berbagai ibadah : shaum, tarawih, sedekah, membaca serta mempelajari Al Qur’an, dll. Makin dekat ke akhir Ramadhan, semangatnya makin tinggi dalam mengejar ampunan dan rahmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan puncaknya beritikaf di sepuluh malam terakhir untuk mendapatkan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sifat seperti ini merupakan bukti keimanannya dalam memenuhi seruan Rabbnya agar bersegera untuk mendapatkan ampunan dariNya dan surga yang seluas langit dan bumi, ketika datang kesempatannya memanfaatkan bulan yang mendatangkan ampunan dan ketakwaan.

“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa “ Q.S. Aali ‘Imraan : 133

Sebagai orang yang menyadari dosa-dosanya kita tentu sangat membutuhkan ampunan Allah agar kita tidak mengulangi dosa-dosa tersebut dan menebusnya dengan perbuatan-perbuatan baik, agar selamat dari bencana di dunia ini maupun azab di akhirat nanti. Bahkan dengan semakin terbukanya penemuan modern, kita seharusnya makin mengharapkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bayangkan saja, bumi yang sekarang dihuni oleh sekitar 6,8 milyar manusia saja sudah terasa luas, padahal hanya satu noktah kecil saja dibanding luasnya langit dunia ini. Matahari yang menjadi pusat tata surya berjarak sekitar 150 juta kilometer dari bumi dan besarnya lebih dari sejuta kali bumi. Bersama sekitar satu milyar bintang lainnya matahari membentuk galaksi kita yang berdiameter seratus ribu tahun cahaya. Galaksi tetangga kita yang paling dekat, Andromeda, jaraknya “hanya” sekitar dua juta tahun cahaya. Sampai saat ini luas langit yang dapat diketahui manusia “hanya” sampai sekitar 30 milyar tahun cahaya. Jadi, betapa luasnya surga yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang bertakwa! Subhanallah.


Keterangan Gambar : Galaksi-galaksi di alam raya hasil pengamatan teleskop luar angkasa Hubble, setiap galaksi berisi jutaan hingga milyaran bintang (Sumber : http://www.webshot.com)

Masalahnya kita tidak mungkin meraih surga tanpa diuji dahulu di dunia ini ketika kita mengaku sebagai orang-orang yang beriman. Sebagaimana makna ayat-ayat berikut ini,

“ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. “ Q.S. Aali ‘Imraan : 142

(Catatan kaki dalam Terjemah Al Qur’an : Jihad dapat berarti: 1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; 2. memerangi hawa nafsu; 3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak.)

“ Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. “ Q.S. Al Ankabuut : 1-3

Sebagai salah satu ujian keimanan, kita merasakan banyak persoalan yang datang kepada kita menjelang Ramadhan tahun ini. Para pemimpin dan penegak hukum yang seharusnya menjadi contoh bagi rakyatnya malah banyak yang diajukan ke pengadilan dengan tuduhan korupsi, belum lagi kenaikan bahan-bahan kebutuhan pokok disebabkan kenaikan BBM serta dicabutnya subsidi minyak tanah, ditambah maraknya tayangan-tayangan yang memancing syahwat untuk bermaksiat dan iklan-iklan paranormal yang bisa merusak akidah tauhid. Bagi orang yang beriman datangnya bulan Ramadhan seolah penyejuk dan pembuka jalan untuk menemukan solusi bagi persoalan hidupnya, namun orang yang lemah imannya cenderung makin murung dengan datangnya bulan ini karena dibayangi ketakutan menghadapi kesulitan ekonomi. Sungguh benarlah firman Allah Jalla Jalaaluh yang artinya,

“ Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” Q.S. At Taghaabun : 11

Petunjuk yang diberikanNya pada hati orang-orang beriman dalam menghadapi kejadian apa pun di dunia ini adalah keimanan itu sendiri, yang salah satu rukunnya adalah iman kepada takdir Allah baik yang terasa manis maupun pahit. Takdir manis dihadapi dengan keimanan akan melahirkan syukur, sedangkan takdir pahit membuahkan sabar. Lebih jauh lagi kesabaran tersebut akan melahirkan ridho karena yakin bahwa yang sudah terjadi merupakan ketentuan Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, selanjutnya malah melahirkan syukur setelah menemukan hikmah di balik musibah. Lebih penting dari itu, kejadian di dunia ini dijadikan pelajaran agar bisa berbekal sebelum datangnya kematian.

“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan. “ Q.S. Al Anbiyaa : 35

Mari kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bekal mental untuk menghadapi ujian hidup. Mumpung kita masih berada di bulan penuh berkah ini, jangan biarkan semangat ibadah kita menurun. Bayangkan bila ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita, jangan sampai kita menyesal dengan tidak memanfaatkannya sebaik-baiknya. Wallahu a’lam.

Penulis, Pembina Wahdah Islamiah Bandung,Pimpinan Ma’had Al Amanah Lembang, Mubalig, dan Alumnus Astronomi ITB.

Senin, 01 September 2008

"Pesta" DL

AlhamdulilLaah, washsholaatu wassalaamu 'alaa RasuulilLaah, wa ba'du ,

Salah satu upaya untuk meningkatkan ketaqwaan, khususnya di bulan Ramadhan ini, adalah dengan terus menerus menuntut ilmu.

AlhamdulilLaah, Allaah 'Azza wa Jalla menunjukkan pada saya salah satu sumber untuk bisa mendownload (DL) banyak program maupun materi keislaman.

Bagi anda yang mau "pesta" DL silahkan klik link ini.

Semoga bermanfaat.

Minggu, 31 Agustus 2008

Marhaban Yaa Ramadlaan...

AlhamdulilLaahi washsholaatu wassalaamu 'alaa RasuulilLaah,

Segala puji bagi Allaah 'Azza wa Jalla, yang telah menganugerahkan pada kita satu bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan.

AlhamdulilLaah, Ramadhan 1429 dimulai secara serempak bagi seluruh umat Islam di Indonesia, yaitu bertepatan dengan Senin 1 September 2008. Karena awalnya ditetapkan dengan sidang itsbat berdasarkan hisab maupun ru'yatul hilal, maka konsekwensinya Ramadhan tahun ini akan berlangsung 30 hari, insya Allaah.

Berdasarkan perhitungan, tanggal 31 Agustus 2008 yang bertepatan dengan 29 Sya'ban 1429 Hijriah ketinggian hilal di seluruh Indonesia saat matahari terbenam berkisar antara 4 sampai 5,5 derajat. Konjungsi atau ijtimak yang menandai siklus baru peredaran bulan terjadi pada pukul 3:59 pagi hari Ahad 31 Agustus 2008. Bagian bulan yang tercahayai matahari dilihat dari Bumi hanya sekitar 0,5% saja, namun di Indonesia dianggap hilal yang lebih tinggi dari 2 derajat dianggap sudah ImkaanurRu'yah (memungkinkan untuk bisa dilihat) sehingga pengakuan rukyat Ahad sore diterima sebagai salah satu pertimbangan menetapkan 1 Ramadhan 1429 jatuh malam Senin.


Sementara itu, pada tanggal 29 September 2008 di seluruh Indonesia bulan berada di bawah ufuk saat matahari terbenam, demikian pula di Saudi Arabia. Dengan demikian tanggal 30 September adalah tanggal 30 Ramadhan, dan shaum kita tahun ini genap 30 hari. 1 Syawal 1429 H jatuh pada hari Rabu, 1 Oktober 2008. Insya Allaah lebaran tahun ini pun akan disepakati oleh ormas-ormas Islam di Indonesia.

Selamat datang wahai Ramadhan!!!

Yaa Allaah, jadikanlah Ramadhan tahun ini menjadi penghapus dosa kami, penerang jalan kami, dan penyelamat kami dari bencana dan kesulitan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti...! Aamien.

Sabtu, 16 Agustus 2008

Shalat Gerhana

AlhamdulilLaahi wash shalaatu was salaamu 'alaa RasuulilLaah...

Hari ini, 17 Agustus 2008 untuk seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikan peristiwa langka, yaitu Gerhana Bulan (insya Allaah jika tidak mendung tentunya). Peristiwa bulan tertutup bayangan bumi dimulai jam 02.36 WIB dan berlangsung sampai bulan terbenam dalam keadaan gerhana sekitar 3 jam 9 menit kemudian (jam 05.45 WIB). Puncak gerhana terjadi ketika 80% bagian bulan tertutupi bayangan bumi, tepatnya jam 04.10 WIB.

Apa yang harus kita lakukan?

RasululLaah SAW menganjurkan 4 sunnah dalam peristiwa ini, yaitu :
1. Berdo'a dan beristighfar
2. Bertakbir
3. Shalat dan Khutbah Gerhana
4. Bershadaqah

Shalat gerhana adalah shalat yang unik, karena berbeda caranya dari shalat biasa. Dimulai dengan seruan/ajakan shalat berjama'aah dengan kalimat ASH SHALAATU JAAMi'aH (Mari shalat berjama'ah - HSR. Bukhary), lalu Imam memimpin dengan bacaan dijaharkan (nyaring) pada raka'at pertama dua kali Ruku' dan 2 bacaan nyaring, demikian pula raka'at kedua, lalu diakhiri tahiyyat dan salam. Setelah itu Imam berkhutbah menganjurkan amalan-amalan yang disebutkan di atas, mengingatkan untuk bertaqwa, serta mengajak merenungi ayat-ayat Allah 'azza wa jalla. Selengkapnya bisa dipelajari dalam Hadits-hadits berikut ini :

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau melaksanakan salat gerhana dua rakaat dengan empat kali rukuk, dan empat kali sujud dalam satu rakaat

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1503

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Pada masa Rasulullah saw. pernah terjadi gerhana matahari. Saat itu Rasulullah saw. melakukan salat gerhana, beliau berdiri sangat lama dan rukuk juga sangat lama, lalu mengangkat kepala dan berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama. Kemudian beliau rukuk lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama. Selanjutnya beliau sujud. Kemudian berdiri lama, namun tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, namun tidak selama rukuk pertama, mengangkat kepala, lalu berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama, lalu sujud dan selesai. Ketika salat usai matahari sudah nampak sempurna kembali. Beliau berkhutbah di hadapan kaum muslimin, memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan bersabda: Sesungguhnya matahari dan rembulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, jika kalian melihat keduanya gerhana, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah! Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1499

Gerhana > Seruan melakukan salat gerhana "asshalaatu jaami`atan" (marilah salat berjamaah)

Hadis riwayat Abu Masud Al-Anshari ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Dengan kedua ayat tersebut Allah membuat rasa takut kepada hamba-hamba-Nya. Keduanya tidaklah terjadi gerhana karena kematian seorang manusia. Karena itu bila kalian melihatnya, salat dan berdoalah kepada Allah sampai hilang yang menakutkan kalian

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1516

Hadis riwayat Asma ra.:
Dari Fatimah, bahwa Asma berkata: Pada masa Rasulullah saw. pernah terjadi gerhana matahari. Aku datang menemui Aisyah yang ketika itu sedang salat dan aku bertanya: Ada apa dengan orang-orang, kenapa mereka melakukan salat? Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke arah langit. Aku bertanya lagi: Tanda kebesaran Allah? Aisyah menjawab: Ya. Rasulullah saw. berdiri lama sekali (dalam salat) hingga kepalaku pusing, lalu aku ambil qirbah (tempat air dari kulit), meletakkannya di sampingku. Aku siram kepala atau wajahku dengan air. Ketika selesai salat matahari telah muncul kembali. Kemudian Rasulullah saw. berkhutbah kepada kaum muslimin. Beliau memuji dan menyanjung Allah. Lalu bersabda: Selanjutnya. Apa yang belum pernah aku lihat, telah dapat kulihat di tempatku ini, termasuk surga dan neraka. Telah diwahyukan kepadaku, bahwa kalian akan menerima ujian dalam kubur yang hampir menyerupai fitnah atau seperti fitnah Masih Dajjal, aku tidak tahu apa ia sebenarnya. Asma melanjutkan: Seseorang di antara kalian didatangkan dan ditanya: Apa yang engkau ketahui tentang orang ini (maksudnya Rasulullah saw.)? Orang yang beriman akan menjawab: Dia adalah Muhammad utusan Allah, yang datang kepada kami dengan membawa bukti dan petunjuk. Lalu kami menyambut dan mematuhinya. (Itu dikatakannya sebanyak tiga kali). kemudian kepadanya dikatakan: Benar! Kami memang tahu bahwa engkau beriman kepadanya. Tidurlah baik-baik! Sedangkan orang munafik atau ragu-ragu akan menjawab: Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu kuikuti saja berkata seperti itu

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1509

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Tatkala gerhana matahari terjadi di masa Rasulullah saw. (manusia) diseru dengan seruan: "as-shalaatu jaami`atan" (marilah salat berjamaah). Rasulullah saw. melakukan dua kali rukuk dalam satu rakaat. Kemudian berdiri dan melakukan dua kali rukuk dalam satu rakaat (yang terakhir). Kemudian matahari nampak kembali

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1515

Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:
Tatkala terjadi gerhana matahari di masa Nabi saw., beliau bangkit terkejut, takut terjadi kiamat sampai beliau menuju mesjid. Beliau melakukan salat dengan rukuk dan sujud yang lama sekali. Tidak pernah aku melihatnya melakukan salat seperti itu. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kebesaran yang dikirimkan Allah, gerhana ini terjadi bukan karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi Allah yang mengirimkannya untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu, bila kalian melihatnya, maka bersegeralah ingat kepada-Nya, berdoa dan mohon ampunan-Nya

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1518

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Bahwa ia dikabarkan dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan tidak terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi keduanya termasuk tanda kebesaran Allah. Maka jika kalian melihat gerhana, kerjakanlah salat

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1521

Hadis riwayat Mughirah bin Syu`bah ra., ia berkata:
Pada masa Rasulullah saw. pernah terjadi gerhana matahari pada hari kematian Ibrahim. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana disebabkan kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, apabila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan tunaikan salat hingga matahari nampak kembali

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 1522

Semoga bermanfaat... walhamdu lilLaahi Rabbil 'aalamiin...

Jumat, 08 Agustus 2008

"Warga" Baru...!

AlhamdulilLaah, washshalaatu wassalaamu 'alaa RasuulilLaah, wa ba'd:

Sebagai lanjutan dari sharing sebelumnya saya ingin berbagi kebahagiaan dengan hadirnya "warga" baru di keluarga besar kami...ya, Bapak dan Ibu saya hari ini mendapat cucu baru dengan lahirnya bayi laki-laki adik saya yang beratnya 3,6 kg. AlhamdulilLaah, adik saya yang nomor dua hari ini melahirkan anaknya yang ke-8 di tanggal 8 bulan 8 tahun '08 (saya tidak tahu persis apakah tadi pagi kejadiannya tepat jam 8, he...he).

Saya ingin berceritera juga bahwa adik kedua saya ini (perempuan) ketika kami masih sama-sama belum menikah adalah saudara saya yang paling dekat. Maklum, kami tahu bahwa dalam Islam tidak boleh ada "pacaran", namun keuntungan ada saudara lain jenis yang umurnya dekat dengan kita bisa memudahkan "ta'aruf" jika kita lagi PDKT (pengalaman pribadi yang sudah terbukti, ...he..he).

Ketika menginjak bangku SMP adik saya ini sekolahnya sudah merangkap, paginya di sekolah umum di Lembang dan siangnya di Pesantren di Bandung. O, ya, umurnya 2 tahun di bawah saya, tapi selisih kelasnya 4 tahun di bawah saya. Waktu saya tingkat I di ITB adik saya baru lulus SMP dan melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah Negeri di Cijerah. Karena dia tidak mau juga meninggalkan kelas pesantrennya di Jln. Pajagalan 14 Bandung, saya diminta menemani agar mudah antar jemputnya. Pada waktu itu kami sering bermobil berdua kemana-mana, baik ke tempat kostnya di Cijerah maupun ketika belanja untuk toko buku kami yang di Lembang. Saya sendiri sempat menemani sekolah di pesantren adik saya tersebut hanya kuat satu semester saja, karena saya harus konsentrasi kuliah, dan ternyata adik saya pun akhirnya konsentrasi di MAN dan hanya kuat melanjutkan di Pesantren satu tahun saja. Inilah kemungkinan yang mendorong orang tua kami menyekolahkan adik kami yang paling kecil (perempuan juga) hanya murni di Pesantren tersebut sampai lulus tingkat Mu'allimien, walhamdulilLaah.

Salah satu pendorong saya dan adik-adik saya mendalami Dienul Islam juga dikarenakan adanya pendidikan untuk saling menyayangi dari orang tua kami. Jangankan dengan saudara kandung, sejak kecil saya sudah disuruh dekat dengan saudara-saudara sepupu saya, baik keponakan Bapak maupun keponakan Ibu. Kami diajari untuk selalu ingat pada hubungan kekeluargaan (silaturrahim). Nah, adik saya ini begitu dekat dengan saya sehingga kami sering saling berbagi ketika kami mulai tertarik pada lawan jenis, dan saling memberi saran. Singkat cerita, ketika saya menikah kelihatannya saya agak merasa "kehilangan" adik saya, dan begitu juga sebaliknya. Untung adik saya juga menikah sekitar setengah tahun setelah saya menikah, dan suaminya tiada lain sahabat saya yang sama-sama ngaji "kitab gundul" yang saya ceritakan di sharing sebelumnya. Meskipun anaknya sudah DELAPAN sekarang ini, keluarga mereka selalu dilimpahi rizqi dan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya.

Adik ipar saya tadi lulusan pesantren, tapi juga seorang pengusaha yang sukses. Berkat ketekunannya, keluarga adik saya tersebut (suami istri) mengelola lebih dari DELAPAN toko; yang paling banyak toko mas, lalu toko grosir sembako, dan juga tentunya toko buku. Boleh dikata bakat kedua orangtua saya yang notabene pedagang menurun pada keluarga adik kedua saya itu.

Namun mereka juga sangat aktif dalam kegiatan sosial maupun dakwah dan pendidikan. Adik saya menjadi kepala RA dan suaminya menjadi ketua cabang salah satu ormas yang selama ini berperan besar mewarnai pemahaman keIslaman dalam keluarga besar kami. Anak-anak mereka pun sejak kecil sudah disekolahkan dengan pendidikan keIslaman, sehingga insya Allaah untuk keluarga mereka meskipun anaknya banyak tidak ada yang "terlantar" baik pendidikan lahir maupun bathinnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'aalaa terus melimpahkan berkahNya pada keluarga kalian, wahai adikku ... juga dengan lahirnya anak ke-8 kalian ini semoga Allah 'Azza wa Jalla menjadikannya anak yang shalih. Aamien.

Sabtu, 19 Juli 2008

Sharing

AlhamdulilLaah,... wash shalaatu was salaamu 'alaa RasuulilLaah... wa ba'du :

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Nabi saw., beliau bersabda: " Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan salat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya " (HR. Muslim no. 1712)

Pada tulisan sebelumnya saya sudah berbagi tentang bagaimana proses saya sebagai pengusaha dan sebagai guru. Kali ini saya ingin sharing tentang bagaimana saya menjadi mubalig seperti sekarang (kata orang), walaupun jauh di lubuk hati saya sangat merasa tidak pantas, tapi ini adalah karunia Allaah Subhaanahu wa Ta'aalaa yang harus saya syukuri, diantaranya dengan bercerita di blog ini ;)

AlhamdulilLaah, Bapak dan Ibu saya termasuk orangtua yang sukses dalam mendidik anak-anaknya, disamping terhitung pengusaha sukses untuk ukuran Pasar Lembang he...he. Namun seperti juga pengusaha sukses lainnya memulai dari kondisi prihatin, demikian pula orangtua saya. Saya ingat waktu kecil bagaimana mereka bekerja keras membanting tulang untuk kami, anak-anak mereka. Kami bersaudara berjumlah enam orang, empat lelaki dan dua perempuan. Saya terbesar, yang kedua dan terakhir perempuan. Meskipun berangkat dari keprihatinan, ada hal terbaik yang saya ingat dalam proses pendidikan orangtua kami, mereka selalu memberikan makanan yang terbaik buat badan, otak, dan jiwa kami!!! Ya, ibu saya sering berkata, "Kalian tahu langganan ibumu ada yang berasal dari kompleks polri dan au? Nah ... Ibu-ibu jendral itu ketika ngobrol soal makanan untuk keluarganya, ibumu ini yakin kalian kuberi makan lebih dari mereka!". Dalam hal makanan otak, Bapak dan Ibu sering mengingatkan pada anak-anaknya agar mementingkan sekolah, saya dan adik-adik bersekolah di SD yang sama (SD Negeri Lembang 1) dan semua dikenal sebagai pemegang Ranking 1 di sekolah tersebut (keenam-enamnya...he....he). SMPnya juga hampir semua sama, kecuali anak yang terakhir yang oleh Bapak langsung dimasukkan ke Pesantren.

Adapun dalam makanan jiwa, kami semua diharuskan belajar baca Al Qur`an (istilahnya : mengaji) sejak kecil. Saya ingat, waktu saya kecil yang namanya TV adalah barang mewah, kami bahkan belum punya radio. Saya sering numpang lihat TV atau dengerin radio dari tetangga, itu sebelum saya sekolah SD. Namun sejak sebelum masuk TK pun saya sudah disuruh ikut ke tajug (mushollaa) bersama anak-anak lain untuk belajar mengaji. Kalau anak-anak sekarang masuk SD sudah bisa baca latin maupun Al Qur`an karena metoda IQRA di TK, maka dulu saya bisa baca Al Qur'an sebelum masuk SD berkat metoda IRAQI di langgar kecil belakang rumah saya. Keluarga kami tinggal di rumah kontrakan waktu itu sampai saya kelas 3 SD, lalu Bapak cerita sudah beli tanah dekat Pasar Lembang tempat Bapak dan Ibu bekerja dan lagi dibangun rumah, pada saat saya kelas 4 SD barulah kami pindah ke rumah sendiri. Tentu di rumah baru ini sudah punya Radio dan TV, tapi tetap setiap sore kami disuruh berangkat ke guru ngaji untuk meneruskan pelajaran kami.

Menginjak bangku SMP saya sudah tidak ke guru ngaji lagi, tapi diberi Al Qur`an Terjemah yang selalu saya baca ba'da Maghrib, Arab maupun terjemahnya. Sampai menginjak kelas 3 SMP, Bapak saya diajak hadir ke pengajian orang tua (ceramah) oleh kenalannya yang juga seorang pengusaha toko mas sekaligus ustadz. Saya dibawa juga ke pengajian tersebut. Saya ingat penceramahnya, yang kemudian menjadi guru saya sehingga bisa membaca Arab "gundul", waktu itu menjelaskan tentang metoda mempelajari Islam. Kata beliau, ada 3 jalan manusia memahami Islam : Ijtihaad, Ittibaa', dan Taqliid. Ijtihad adalah upaya yang sungguh-sungguh dalam meneliti dan menyimpulkan langsung dari Al Qur`an maupun Hadits-hadits RasuulilLaah ShallalLaahu 'alayhi wa sallama, yaitu yang dikerjakan oleh para ahli ilmu (ulama). Ittiba' adalah mengikuti pendapat seseorang dengan mengetahui dalilnya. Sedangkan taqlid adalah mengikuti orang lain tanpa mengetahui dalilnya, dan itu terlarang berdasarkan (QS. 17 : 36),
">
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya"

SubhaanalLaah, saat itu saya sadari bahwa selama ini yang saya amalkan lebih banyak hanya berdasarkan taqlid saja! Sejak itu saya bertekad ingin lebih mengetahui Islam berdasarkan dalil-dalil secara benar, walhamdulilLaah.

Ada hal lain yang menarik dari pengajian tersebut, saya baru tahu bahwa pengajiannya dibagi 3 sesi. Sesi pertama untuk latihan ceramah atau Praktek Dakwah bagi para pemuda dan pemula, sesi kedua Ceramah Pokok, dan sesi ketiga Tanya Jawab baik lisan maupun tertulis. Pada saat datang pertama kali, saya langsung ditunjuk jadi salah seorang yang harus menyampaikan Praktek Dakwah, padahal saya tidak ada persiapan sama sekali. Untungnya pembicara Praktek Dakwah ada 3 orang, yang pertama anaknya tuan rumah, yang tampil ke depan hanya untuk menyampaikan "saya belum siap", yang kedua saya sendiri yang menyampaikan " saya belum siap tapi insya Allaah di lain waktu akan berusaha lebih mempersiapkan diri ", dan yang ketiga seorang pemuda seusia saya yang menyampaikan ceramah dengan lancar tanpa teks namun hafalan ayat dan haditsnya sangat lancar! Belakangan baru saya tahu bahwa dia adalah anak ustadz yang mengajak Bapak dan saya ke pengajian tersebut, sekolahnya emang di Pesantren tingkat Tsanawiyah kelas 3.

Akhirnya Bapak menyuruh saya belajar privat kepada Ustadz yang menyampaikan ceramah pokok tadi, ditemani anak yang sebenarnya sudah mesantren tadi, dengan alasan "untuk memperlancar pelajaran Bahasa Arab". Kami berdua belajar dari ustadz mulai dari pelajaran Nahwu dalam Kitab Jurumiyah, dilanjutkan Mutammimah Jurumiyah, dengan praktek membaca Kitab Tafsir Ibnu Katsir, dan terakhir belajar dari kitab Jaami'ud Duruus yang tidak sampai tamat dipelajari karena kesibukan dalam organisasi dakwah. Saat itu saya sudah kelas 2 SMA.

Selain belajar privat, Bapak juga mengirim saya untuk belajar Pesantren sebulan Ramadhan di Garut. Di sana saya belajar dengan anak-anak sebaya saya maupun yang sudah duduk di bangku kuliah. Sepulang dari sana, di sekolah saya diutus oleh kelas (maklum juara kelas, he...he) untuk ikut Cepat Tepat yang diselenggarakan oleh OSIS bersama dua orang teman sebagai pendamping. Penyelenggaranya Sie Pendidikan OSIS yang aktifis KARISMA (Keluarga Remaja Islam Masjid Salman-ITB). Karena banyak pertanyaan yang "berbau agama", maka kami kelas 2 bisa mengalahkan kakak-kakak kelas 3 walaupun mereka protes karena banyak pertanyaan "di luar" pelajaran sekolah!

Sesudah itu saya dan dua pendamping diutus untuk ikut Cepat Tepat masalah-masalah agama Tingkat SLTA yang diselenggarkan di UNISBA (Universitas Islam Bandung). Pendamping saya tiada lain adalah Ketua Sie Pendidikan dan Ketua Sie Rohani OSIS waktu itu. Rektor UNISBA waktu itu membuka acara dengan menjanjikan "Siapa pun yang menjadi Juara Pertama jika masuk UNISBA akan dibebaskan dari semua biaya (gratis)". Sayangnya kami hanya menjadi Juara II walaupun penonton lebih berfihak pada kami, karena yang jadi JUARA I memang berasal dari Madrasah Aliyah Negeri Cililin. Kakak ketua Sie Pendidikan berkata pada saya, "Jadi Juara II pun sudah luar biasa karena kita berasal dari sekolah umum, dan untungnya kita memang tidak berminat masuk UNISBA, he...he!". Dan memang belakangan saya tahu kakak tersebut diterima di Fakultas Kedokteran Unpad.

Pada saat pergantian kepengurusan OSIS saya direkomendasikan oleh kakak ketua Sie Rohani lama untuk menjabat Ketua Sie Rohani pada kepengurusan OSIS berikutnya. Itulah awal mula saya lebih "serius" terjun dalam bidang dakwah, disamping aktif dalam ormas Islam di luar sekolah bersama ustadz yang saya ceritakan di atas. Banyak sekali pengalaman di lapangan dakwah sejak itu, yang tidak mungkin bisa saya ceritakan semuanya. Saya hanya berharap agar Allah 'Azza wa Jalla menganugerahi saya keistiqamahan untuk terus berkiprah dalam belajar dan mengajarkan serta mengamalkan Dienul Haq, Al Islaam, yang memang satu-satunya agama yang diridhoi olehNya. Aamien.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka." Dan aku (Abdullah) sendiri berkata: "Siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, niscaya ia masuk surga ". (HR. Muslim no. 134)

WabilLaahit Taufiiq.

Kamis, 19 Juni 2008

Learn to Blog (2) : Keep Your Focus on...?

AlhamdulilLaah, wash shalaatu was salaamu 'alaa RasuuilLaah...

Pelajaran kedua dalam Blogging adalah : FOKUS

Anda mungkin heran karena hal ini tidak saya jalankan dalam blog saya, lihat saja judul serta sub judul Blog ini : Abuyahya learn to blog (*seharusnya "learns" kata Mas Ecko, tapi saya tetap menulis "learn" karena Abuyahya dibaca "I" atau "ay" atau "aye" alias "ane"...he..he*), Pengalaman, Artikel, Audio, Aqidah, Entrepreneurship,...pokoknya maseh gado² ®™... berarti nggak fokus, ya kan?

Quiz :

Blog yang isinya gado-gado belum tentu nggak fokus : ( )tentu benar ( )belum tentu

Hadiahnya ada di akhir postingan ini, he...he.

Baik,

Hampir semua "pakar" menyatakan bahwa halaman yang baik di Internet adalah yang fokus tentang "sesuatu", namun anda ingat bahwa saya BARU setengah tahun nge-blog; bukan "fakkaar=ahli fikir" maupun "pakar=pandai berkelakar", jadi wajar kalau menjalankan blog ini dengan tema "gado² ®™" yang sampai sekarang merupakan "trade mark" blog ini!

So,
Sebagai pemula saya merasa berhak menulis APA PUN di sini, bahkan sebagai orang yang baru belajar nge-blog lebih berhak lagi menulis "tanpa menghiraukan nasehat para pakar" tersebut...he...he.

Inilah materi inti learn to blog kali ini : Jangan takut-takut dan segan menuliskan apa pun di blog anda, toh nanti juga insya Allaah bisa diedit lagi.

Jadi menurut saya yang namanya FOKUS itu adalah :

"Fokuslah untuk menuliskan apa yang anda inginkan dan fokuslah untuk tetap berkeinginan menulis", insya Allaah "warna" blog anda akan terbentuk sendiri nantinya.

Jadi,
Mana jawaban yang benar tentang quiz di atas?
Atau,
Blog ini punya fokus nggak, sih?

Ok,
Saya jelaskan fokusnya, yaa... (*sebenarnya cuma pembelaan diri krn nggak fokus, he...he*) : Blog ini fokusnya adalah menjadi "gado² ®™" untuk belajar MERAIH KEBERHASILAN DI DUNIA MAUPUN AKHIRAT, insya Allaah...

Sebagai bukti, sekaligus hadiah quiz, saya berikan 2 macam hadiah :

1. Agar anda berhasil, maka perlu belajar meraih kebahagiaan dalam mengelola rumah tangga secara Islami, buku ini menekankan ASPEK AKHIRAT



2. Agar lebih berhasil lagi, anda perlu mempunyai penghasilan yang "lumayan", buku di bawah ini menekankan ASPEK DUNIA



Selamat men-download, ya...

Jangan lupa langsung dibaca saja!

Semoga bermanfaat!