Pengalaman, Artikel, Audio, Aqidah, Entrepreneurship,...pokoknya maseh gado² ®™
Rabu, 31 Juli 2013
Selasa, 16 Juli 2013
Siaran Radio, Siaran TV, dan Bonus Ceramah :D
Bismillaah, insya Allaah hari ini: 1. Siaran Kajian Aqidah di MQ 102,7 FM Bandung 15.30-16.30 2. Muncul di program Republika di ALIF TV yg tayang jam 00, 09, 12, atau 21. Terima kasih.
Siaran Radio di MQFM bisa disimak juga secara audio streaming di http://mqfmnetwork.com/
"Penonton lebih tajam pandangannya dari Pemain"
Lutfi Aziz Firdaus
Rabu, 10 Juli
"Nyeri, nyeri, nyeri moal bisa diubaran"-Talak Tilu
lirik seperti itu hanya berlaku di neraka karena siksaan api neraka bukan untuk disabari,
Sedangkan kita sebagai muslim, dalam menjalani hidup di dunia ini, cobaan itu selalu ada obatnya, yaitu sabar.
now live @ mqfmnetwork.com with Ustadz -Abuyahya Purwanto-
Wafdan Musa Nursakti
Rabu, 3 Juli
Tugas manusia mah berusaha dan memantaskan diri. Soal taqdir mah urusan Allah, ga usah dipertanyakan, karena Allah maha adil, tidak mungkin dzhalim.
Wafdan Musa Nursakti
3 Juli
mendengarkan kajian aqidah di 102.7 MQFM bersama ust. Abuyahya Purwanto. masih pembahasan Rukun Iman ke-6: iman kepada taqdir.
Resha Deastera
Rabu 12 Juni
koneksi dengan Allah itu harus CBSA::
Cepat
Bulat (Full hanya untuk Allah saja)
Sering
Ajeg (Istiqomah-dalam keadaan susah maupun lapang)
agar hidup kita berakhir husnul khatimah..
"wahai jiwa yang tenang! kembalilah pada Rabbmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. dan masuklah ke dalam surga-Ku" (Qs. Al-Fajr: 27-30)
#kajiantauhiidMQFM #cakrawala islam Rabu by: Abuyahya Purwanto
Bonus CERAMAH tentang Inabah (Kembali kepada Allah)
http://sdrv.ms/18jLBlQ
Sabtu, 08 Juni 2013
Al Iitsaar BUAH NYATA AKHLAQ MULIA
Seseorang datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan berkata,
“Wahai Rasulullah, berilah saya makanan” Beliau kemudian mengutusnya ke
rumah istrinya, tetapi di rumah ternyata tidak ditemukan makanan. Nabi
صلى الله عليه وسلم bersabda, “Adakah seseorang yang mau menjamu tamu
pada malam ini ? Semoga Allah merahmatinya” Seseorang dari kalangan
Anshar berdiri kemudian ia menjawab, “Saya, wahai Rasulullah”
Laki-laki itu pulang dan menemui istrinya dan berkata, “Ini adalah tamu Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Jangan remehkan dia.”
Istrinya menukas, “Demi Allah, aku tidak memiliki makanan selain yang tersisa untuk anak-anak”
Suaminya berkata, “Jika anak-anak menginginkan makan malam, tidurkanlah mereka. Kemarilah, padamkan lampu. Biarkan perut-perut kita tak terisi makanan pada malam ini”
Malam itu mereka tak menyantap makanan untuk makan malam.
Keesokan harinya, laki-laki itu menjumpai Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sungguh Allah عزوجل telah takjub —atau tertawa— terhadap fulan dan fulanah” Kemudian turunlah ayat:
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan ini). Barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9) (HR. Al-Bukhari no. 4889. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, VII/42-43)
Laki-laki itu pulang dan menemui istrinya dan berkata, “Ini adalah tamu Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Jangan remehkan dia.”
Istrinya menukas, “Demi Allah, aku tidak memiliki makanan selain yang tersisa untuk anak-anak”
Suaminya berkata, “Jika anak-anak menginginkan makan malam, tidurkanlah mereka. Kemarilah, padamkan lampu. Biarkan perut-perut kita tak terisi makanan pada malam ini”
Malam itu mereka tak menyantap makanan untuk makan malam.
Keesokan harinya, laki-laki itu menjumpai Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sungguh Allah عزوجل telah takjub —atau tertawa— terhadap fulan dan fulanah” Kemudian turunlah ayat:
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan ini). Barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9) (HR. Al-Bukhari no. 4889. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, VII/42-43)
Jumat, 09 November 2012
Sabtu, 20 Oktober 2012
Urgensi IKHLAS dalam Beribadah
Ceramah di Masjid DT berjudul "Urgensi IKHLAS dalam Beribadah" silahkan download di http://sdrv.ms/ReGsD5
Minggu, 01 Januari 2012
ABCnya SUKSES ...
Alhamdulillaahi wash shalaatu was salaamu 'alaa Rasuulillaahi, wa ba'du:
Banyak orang mengajak sukses dan mengaku sukses, apalagi jika kita menjelajah internet ;)
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaahu mengatakan :
"Seorang mukmin tidak pernah bisa merasa sukses, sampai kakinya menginjak pintu Surga ... "
Allah 'Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
"
Adalah menjadi kebiasaan orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan ibadah haji lalu bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya. Setelah ayat ini turun maka memegah-megahkan nenek moyang itu diganti dengan zikir kepada Allah. 127 Inilah do'a yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.
Namun, tidak ada salahnya kita mengetahui resep "sukses" yang bisa membuat kita merasa berhasil dalam hidup ini, walaupun kita tahu bahwa kesuksesan sekarang ini baru "sementara" sedangkan kesuksesan sejati baru terbukti "nanti".
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 59:18)
Rumus ABCDEF
A=Antusias
Orang-orang sukses biasanya selalu antusias (semangat dan gembira) dengan apa pun yang dikerjakannya.
B=Bersikap Positif
Agar sukses anda harus membiasakan diri : berfikir positif, berkata positif, dan bertindak positif.
C=Coba dan coba lagi
Tidak mungkin Anda meraih kesuksesan jika Anda gampang menyerah. Jangan menyerah ... syukuri apa yang ada ... hidup adalah anugerah ... tetap jalani hidup ini ... melakukan yang terbaik (lho???!!!???)##%%***$???teuing ah
D=Dahulukan yang pokok
Anda harus punya daftar pekerjaan dan urutan prioritasnya, lalu selesaikan satu per satu.
E=Etis
Ikutilah aturan dan kepatutan yang ada, jangan tergoda jalan pintas yang menyesatkan.
F=Fokus
Orang sukses adalah yang bisa fokus pada yang sedang ditekuninya sampai berhasil, baru pindah pada yang berikutnya.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain 1587, (QS. 94:7) dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap". (QS. 94:8)
Semoga bermanfaat bagi kita semua ... Aamiin!
Banyak orang mengajak sukses dan mengaku sukses, apalagi jika kita menjelajah internet ;)
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaahu mengatakan :
"Seorang mukmin tidak pernah bisa merasa sukses, sampai kakinya menginjak pintu Surga ... "
Allah 'Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
"
- Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu 126, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang mendo'a: "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS. 2:200)
- Dan di antara mereka ada orang yang berdo'a: "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka 127" (QS. 2:201)
"
126.
Namun, tidak ada salahnya kita mengetahui resep "sukses" yang bisa membuat kita merasa berhasil dalam hidup ini, walaupun kita tahu bahwa kesuksesan sekarang ini baru "sementara" sedangkan kesuksesan sejati baru terbukti "nanti".
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 59:18)
Rumus ABCDEF
A=Antusias
Orang-orang sukses biasanya selalu antusias (semangat dan gembira) dengan apa pun yang dikerjakannya.
B=Bersikap Positif
Agar sukses anda harus membiasakan diri : berfikir positif, berkata positif, dan bertindak positif.
C=Coba dan coba lagi
Tidak mungkin Anda meraih kesuksesan jika Anda gampang menyerah. Jangan menyerah ... syukuri apa yang ada ... hidup adalah anugerah ... tetap jalani hidup ini ... melakukan yang terbaik (lho???!!!???)##%%***$???teuing ah
D=Dahulukan yang pokok
Anda harus punya daftar pekerjaan dan urutan prioritasnya, lalu selesaikan satu per satu.
E=Etis
Ikutilah aturan dan kepatutan yang ada, jangan tergoda jalan pintas yang menyesatkan.
F=Fokus
Orang sukses adalah yang bisa fokus pada yang sedang ditekuninya sampai berhasil, baru pindah pada yang berikutnya.
1587. Maksudnya: sebagian ahli Tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berda'wah maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah urusan akhirat dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat maka berdo'alah.
Semoga bermanfaat bagi kita semua ... Aamiin!
Sabtu, 27 Agustus 2011
Menyikapi Perbedaan Idul Fitri Dengan Nilai-Nilai Terpuji
(Dimuat juga di Harian "PR" Sabtu 27 Agustus 2011, Rubrik Opini)
Dari Kuraib, ia berkata bahwa Ummu Fadhl binti Al Harits mengutusnya kepada Muawiyah di Syam. “Maka aku sampai di Syam lalu menunaikan keperluan tersebut, sampai tampak Hilal Ramadhan olehku ketika di Syam. Aku melihat hilal malam Jumat. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir Ramadhan, lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ;’Kapan kamu melihat hilal (Ramadhan) ?’
Jawabku : ‘Kami melihatnya pada malam Jumat’
Ia bertanya lagi : ‘Engkau melihatnya sendiri?’
Jawabku : ‘Ya ! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Muawiyah puasa’.
Ia berkata : ‘Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami akan terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal Syawal’.
Aku bertanya : ‘Apakah tidak cukup bagimu rukyah (penglihatan) dan puasanya Muawiyah ?’
Jawabnya :’Tidak ! Begitulah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah memerintahkan kepada kami’.” (HR Muslim dalam Shahihnya, III/126)
Hadits Nabi SAW di atas yang diriwayatkan secara tidak langsung oleh Ibnu Abbas RA memberikan solusi praktis jika kita menghadapi perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan, maupun bulan lain yang berkaitan dengan waktu ibadah umat Islam (Mis. Dzulhijah). Solusi tersebut adalah : 1. Penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah adalah dengan rukyat (melihat) hilal (bulan sabit baru), dan 2. Rukyat yang berlaku adalah yang ditetapkan oleh Qadhi (hakim) di wilayah masing-masing (dalam hal ini Muawiyah RA di Syam dan Ibnu Abbas RA di Madinah).
Akan tetapi, mengingat jauhnya masa kita dari Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin RA, maka perbedaan tersebut kadang menimbulkan friksi di tubuh kaum Muslimin.
Tahun ini potensi perbedaan dalam menetapkan Idul Fitri sangatlah besar. Masjid Al Furqon UPI dan Masjid Salman ITB sudah mengumumkan perbedaan masing-masing dalam penyelenggaraan Shalat Ied, yaitu 30 dan 31 Agustus 2011. Diantara penyebab perbedaan ini adalah, walaupun bulan pada waktu maghrib hari Senin 29 Agustus sudah wujud di atas ufuk (wujudul hilal) namun belum memungkinkan untuk bisa dilihat (imkanur ru’yah). Oleh karena itu, Muhammadiyah yang menganut metode penetapan awal bulan berdasarkan wujudul hilal sudah sejak jauh hari mengumumkan hari Idul Fitri jatuh tanggal 30 Agustus. Sedangkan Depag RI dan beberapa ormas yang menggunakan metode imkanur ru’yah memperkirakan Idul Fitri akan jatuh tanggal 31 Agustus 2011.
Pada dasarnya jika masing-masing fihak bisa berlapangdada dan bermusyawarah dengan baik, kita tunggu saja hasil rukyat hilal malam Selasa, yaitu Senin 29 Agustus 2011. Apakah hilal terlihat atau tidak? Apakah diterima dalam Sidang Itsbat di Depag RI atau tidak? Kemudian hasil musyawarah tersebut diterima semua fihak dengan legowo (lapang dada). Penulis sendiri walaupun cenderung pada pendapat yang menggunakan metode imkanur ru’yah (31 Agustus), insya Allah siap tunduk jika ternyata hasil Sidang Itsbat memutuskan 30 Agustus.
Berbeda Tapi Saling Menghargai
Friksi yang mungkin terjadi jika ada penetapan Idul Fitri yang berbeda adalah, masyarakat umat Islam saling menyudutkan dengan saudaranya yang berbeda pendapat. Yang satu mengatakan, “Kamu masih puasa, padahal sudah Hari Raya? Haram tahu!”. Sementara yang lain juga bisa berkata, “Kamu tidak puasa di Hari Ramadhan padahal tidak bepergian, sakit, maupun haid/nifas? Itu dosanya sangat besar di sisi Allah!!!”.
Kalau masing-masing dibiarkan menilai fihak lain, tidak ada yang selamat. Keduanya jatuh pada hal yang haram. Namun jika semuanya sadar bahwa pendirian masing-masing berdasarkan latar belakang yang berbeda, dan juga adanya keterbatasan pada kedua pendapat tersebut, tentunya semua boleh merasa benar dengan pendapatnya tanpa menilai salah fihak lain. Rabbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhta’naa (Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami keliru… QS. 2:286).
Menaati Pimpinan dan Menjunjung Hasil Musyawarah
Dalam masalah yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak, Fikih Islam mempunyai kaidah yang jelas, yaitu “hukmul qaadhi yarfa’ul khilaaf” (keputusan hakim menuntaskan perbedaan). Apalagi dalam hal ini, keputusan Menteri Agama RI dalam menetapkan Idul Fitri dilakukan melalui musyawarah (Sidang Itsbat) yang memang sangat dianjurkan dalam Islam (QS. 3:159).
Alangkah indahnya jika setiap ormas Islam bersabar sampai ditetapkannya hasil Sidang Itsbat dan menghimbau pengikut masing-masing agar menaati hasil musyawarah yang juga merupakan Keputusan Hakim (dalam hal ini Menag RI).
Menjaga Tujuan Ibadah
Ada dua target utama orang yang beribadah di bulan Ramadhan : 1. Meraih ampunan Allah SWT (berdasarkan Hadits Nabi SAW, “ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih”), dan 2. Menggapai ketakwaan (QS. 2:183).
Diantara sifat orang yang layak diampuni Allah adalah orang yang mau memaafkan dan berlapangdada terhadap orang lain (QS. 24:22). Demikian pula diantara sifat orang yang bertakwa adalah pemurah dalam berinfaq, pandai menahan amarah, serta pemaaf pada manusia lain (QS. 3:134).
Penutup
Demikianlah beberapa nilai-nilai terpuji yang didasarkan pada Al Quran dan As Sunnah untuk direnungi dalam menghadapi perbedaan idul Fitri tahun ini. Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan 1432 H ini diterima Allah SWT, tanpa dikotori oleh friksi karena adanya perbedaan tersebut. Taqabbalallaahu minnaa wa minkum!.
Dari Kuraib, ia berkata bahwa Ummu Fadhl binti Al Harits mengutusnya kepada Muawiyah di Syam. “Maka aku sampai di Syam lalu menunaikan keperluan tersebut, sampai tampak Hilal Ramadhan olehku ketika di Syam. Aku melihat hilal malam Jumat. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir Ramadhan, lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ;’Kapan kamu melihat hilal (Ramadhan) ?’
Jawabku : ‘Kami melihatnya pada malam Jumat’
Ia bertanya lagi : ‘Engkau melihatnya sendiri?’
Jawabku : ‘Ya ! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Muawiyah puasa’.
Ia berkata : ‘Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami akan terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal Syawal’.
Aku bertanya : ‘Apakah tidak cukup bagimu rukyah (penglihatan) dan puasanya Muawiyah ?’
Jawabnya :’Tidak ! Begitulah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah memerintahkan kepada kami’.” (HR Muslim dalam Shahihnya, III/126)
Hadits Nabi SAW di atas yang diriwayatkan secara tidak langsung oleh Ibnu Abbas RA memberikan solusi praktis jika kita menghadapi perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan, maupun bulan lain yang berkaitan dengan waktu ibadah umat Islam (Mis. Dzulhijah). Solusi tersebut adalah : 1. Penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah adalah dengan rukyat (melihat) hilal (bulan sabit baru), dan 2. Rukyat yang berlaku adalah yang ditetapkan oleh Qadhi (hakim) di wilayah masing-masing (dalam hal ini Muawiyah RA di Syam dan Ibnu Abbas RA di Madinah).
Akan tetapi, mengingat jauhnya masa kita dari Rasulullah SAW dan para Khulafaur Rasyidin RA, maka perbedaan tersebut kadang menimbulkan friksi di tubuh kaum Muslimin.
Tahun ini potensi perbedaan dalam menetapkan Idul Fitri sangatlah besar. Masjid Al Furqon UPI dan Masjid Salman ITB sudah mengumumkan perbedaan masing-masing dalam penyelenggaraan Shalat Ied, yaitu 30 dan 31 Agustus 2011. Diantara penyebab perbedaan ini adalah, walaupun bulan pada waktu maghrib hari Senin 29 Agustus sudah wujud di atas ufuk (wujudul hilal) namun belum memungkinkan untuk bisa dilihat (imkanur ru’yah). Oleh karena itu, Muhammadiyah yang menganut metode penetapan awal bulan berdasarkan wujudul hilal sudah sejak jauh hari mengumumkan hari Idul Fitri jatuh tanggal 30 Agustus. Sedangkan Depag RI dan beberapa ormas yang menggunakan metode imkanur ru’yah memperkirakan Idul Fitri akan jatuh tanggal 31 Agustus 2011.
Pada dasarnya jika masing-masing fihak bisa berlapangdada dan bermusyawarah dengan baik, kita tunggu saja hasil rukyat hilal malam Selasa, yaitu Senin 29 Agustus 2011. Apakah hilal terlihat atau tidak? Apakah diterima dalam Sidang Itsbat di Depag RI atau tidak? Kemudian hasil musyawarah tersebut diterima semua fihak dengan legowo (lapang dada). Penulis sendiri walaupun cenderung pada pendapat yang menggunakan metode imkanur ru’yah (31 Agustus), insya Allah siap tunduk jika ternyata hasil Sidang Itsbat memutuskan 30 Agustus.
Berbeda Tapi Saling Menghargai
Friksi yang mungkin terjadi jika ada penetapan Idul Fitri yang berbeda adalah, masyarakat umat Islam saling menyudutkan dengan saudaranya yang berbeda pendapat. Yang satu mengatakan, “Kamu masih puasa, padahal sudah Hari Raya? Haram tahu!”. Sementara yang lain juga bisa berkata, “Kamu tidak puasa di Hari Ramadhan padahal tidak bepergian, sakit, maupun haid/nifas? Itu dosanya sangat besar di sisi Allah!!!”.
Kalau masing-masing dibiarkan menilai fihak lain, tidak ada yang selamat. Keduanya jatuh pada hal yang haram. Namun jika semuanya sadar bahwa pendirian masing-masing berdasarkan latar belakang yang berbeda, dan juga adanya keterbatasan pada kedua pendapat tersebut, tentunya semua boleh merasa benar dengan pendapatnya tanpa menilai salah fihak lain. Rabbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhta’naa (Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami keliru… QS. 2:286).
Menaati Pimpinan dan Menjunjung Hasil Musyawarah
Dalam masalah yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak, Fikih Islam mempunyai kaidah yang jelas, yaitu “hukmul qaadhi yarfa’ul khilaaf” (keputusan hakim menuntaskan perbedaan). Apalagi dalam hal ini, keputusan Menteri Agama RI dalam menetapkan Idul Fitri dilakukan melalui musyawarah (Sidang Itsbat) yang memang sangat dianjurkan dalam Islam (QS. 3:159).
Alangkah indahnya jika setiap ormas Islam bersabar sampai ditetapkannya hasil Sidang Itsbat dan menghimbau pengikut masing-masing agar menaati hasil musyawarah yang juga merupakan Keputusan Hakim (dalam hal ini Menag RI).
Menjaga Tujuan Ibadah
Ada dua target utama orang yang beribadah di bulan Ramadhan : 1. Meraih ampunan Allah SWT (berdasarkan Hadits Nabi SAW, “ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih”), dan 2. Menggapai ketakwaan (QS. 2:183).
Diantara sifat orang yang layak diampuni Allah adalah orang yang mau memaafkan dan berlapangdada terhadap orang lain (QS. 24:22). Demikian pula diantara sifat orang yang bertakwa adalah pemurah dalam berinfaq, pandai menahan amarah, serta pemaaf pada manusia lain (QS. 3:134).
Penutup
Demikianlah beberapa nilai-nilai terpuji yang didasarkan pada Al Quran dan As Sunnah untuk direnungi dalam menghadapi perbedaan idul Fitri tahun ini. Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan 1432 H ini diterima Allah SWT, tanpa dikotori oleh friksi karena adanya perbedaan tersebut. Taqabbalallaahu minnaa wa minkum!.
Langganan:
Postingan (Atom)